Menikah Beda Agama di Indonesia

Sudah sejak lama saya pengen bikin tulisan ini tapi selalu saja lupa 😀

Karena saya menikah beda agama dengan suami, banyak yang suka nanya ke saya apakah hal itu mungkin dilakukan, bagaimana caranya, dsb. Nggak sedikit yang berpikir kalau beda agama harus nikah di luar negeri, atau nikahnya harus bikin KTP palsu, atau malah ngga bisa sama sekali. Lalu banyak yang akhirnya putus hubungan hanya karena beda agama, hiks hiks..sedih dengernya.

Pertama-tama, saya Katolik dan suami Muslim. Pernikahan kami langsungkan menurut tata cara Katolik di gereja Katolik pula. Hal itu mungkin kami lakukan karena Katolik mengakui perbedaan agama.

Kedua, menurut Undang-Undang Perkawinan Indonesia, suatu pernikahan itu dianggap sah oleh negara apabila pernikahan itu dilangsungkan secara sah menurut suatu agama tertentu (bahasanya mungkin berbeda dengan kalimat saya, tapi intinya seperti itu).

Nah, suami dan saya sepakat untuk melangsungkan pernikahan tersebut di gereja. Pada dasarnya kami ini ingin berangkat menuju babak baru dalam kehidupan kami dengan penuh kejujuran dan keterbukaan. Oleh karena pernikahan beda agama diakui oleh gereja Katolik maka kami mengadakan Pemberkatan sederhana di sana.

Apa saja syaratnya? Semua prosedur dan syarat sama saja dengan pasangan sesama Katolik. Tidak ada bedanya dan tidak diperumit. Yang saya jalani kemarin, saya mendatangi sekretariat paroki tempat saya dibaptis, karena di situlah saya harus mengurus semua proses awal, yaitu pendaftaran. Syarat pendaftarannya adalah melengkapi semua berkas yang diperlukan. Kalau nggak salah itu surat baptis, krisma, lalu dokumen N1-N4, ktp, KK gereja. Itu yang saya ingat, bisa berbeda-beda ya, sebaiknya cek ke sekretariat masing-masing. Lalu mengisi formulir pendaftaran. Nah, untuk yang beda agama di formulir nanti akan mengisi keterangan beda agama, supaya nanti nggak ditanyain mana surat baptis calon pasangannya.

Setelah itu, mengikuti kursus persiapan perkawinan (KPP). Karena kami saat itu tinggal di kota berbeda, sempat disarankan untuk mengikuti KPP di kota masing-masing saja. Diperbolehkan asal nggak lupa nanti menyertakan sertifikat KPP. Tapi kami memutuskan bareng di gereja Blok B, Jakarta. Oiya, sertifikat KPP itu ada masa berlakunya ya, yaitu 6 bulan. Jadi kalau sampai 6 bulan setelah kursus belum menikah, dianggap sertifikatnya angus dan harus ikut KPP lagi.

Setelah mengikuti KPP dan dapat sertifikat, tahap selanjutnya adalah Kanonik. Pada tahap ini, pasangan akan bertemu dengan Romo untuk ngobrol sama Romo soal kesiapan mental sebelum menikah. Romo akan mengajukan beberapa pertanyaan dan kroscek kelengkapan data kita. Awalnya Romo akan minta kita dan pasangan untuk menghadap dan berdiskusi soal perbedaan agama, khususnya terkait anak. Lalu obrolan akan dilanjutkan secara terpisah, entah yang laki dulu atau perempuan dulu. Banyak yang suka bingung Kanonik itu ngapain, sih? tenang aja, Kanonik itu proses di mana Romo mau ‘memeriksa’udah sejauh mana pasangan saling mengenal dan bagaimana kesiapan mereka. ada paksaan atau tidak, sudah memikirkan rencana ke depannya gimana/belum, dsb. Semua lebih seperti ngobrol dan mendapatkan nasihat dari Romo dan itu semua buat kebaikan kita sendiri. Ada yang takut bakal dikristenisasi. Haha..tenang aja, nggak bakal kok. Pas saya tanya ke pasangan saya, dia bilang yang ditanyakan hal umum banget, Romonya juga banyak ngajak bercanda.

Setelah Kanonik selesai, kita menunggu. Agak deg-degan juga waktu itu ya, karena Romo akan memberikan hasil wawancaranya dengan kita ke Bapa Uskup. Setelah itu, semua dokumen kita dari awal akan diperiksa oleh Bapa Uskup. Kalau menurut beliau semua tidak ada masalah, maka akan diberikan izin. Nanti kita akan dikabari oleh pihak sekretariat paroki untuk mengambil berkas dari Keusukupan. Amplopnya semua disegel, jadi hanya kita yang tahu hasilnya. Izin pun keluar, jadi bisa urus tahap berikutnya, yaitu sekretariat paroki akan mengumumkan rencana pernikahan kita tiga minggu berturut-turut pada misa hari Minggu.

Buat yang mau melangsungkan pernikahannya bukan di gereja tempat asal, harus nembung izin ke gereja tempat nanti akan melangsungkan pernikahan. Contoh, saya asal dari Jakarta tapi mau menikah di Jogja, jadi saya memberitahukan Romo yang akan memberkati pernikahan saya dan semua berkas asli yang dikasih Keuskupan harus diserahkan ke Romo yang akan menikahkan kita di lokasi penyelenggaraan.

Setelah pernikahan di gereja selesai, kita melapor ke catatan sipil, deh. Bawa semua berkas persyaratan, datang sesuai janji, trus udah deh..kayak nikah lagi di catatan sipil, hehe.. Ada pasangan yang paginya ke catatan sipil dulu (tentunya sudah dengan perjanjian, ya) baru acara di gereja. Cuma waktu itu karena nikahnya di beda kota jadi pilihan itu tidak memungkinkan bagi kami.

Nah, itu tadi sharing soal prosedur menikah beda agama secara Katolik. Semoga bermanfaat, ya!

 

Advertisements

My DIY Wedding

I promised a friend that I would share my DIY wedding. At first I thought it’s too personal, but then I feel that my wedding really brought together the spirit of creativity and togetherness.

Garry and I wanted the wedding to be an intimate, personal ceremony. Okay, if you’re Westerners you’d thought, “isn’t it how it’s supposed to be?” Well, let me tell you something. In my country, marriage is a social ceremony. That means you have to invite the whole big family- yes, even the ones that you’ve just met at your wedding day- and then your parents’ colleagues and best friends, and-this is going to sound ridiculous to some of you-the whole neighbors.  Not to mention the ceremony usually is held in traditional ways. With all due respect to my elders, I must say that it cost so much money for a ceremony that only last for 2-3 hours. In Javanese tradition itself, there are at least 3-4 ceremonies prior to the wedding itself, and for each it costs you millions (so you do the math). Point is, it’s expensive.

Money is not the reason we want to have a do-it-yourself wedding. We both are very creative (well, my husband is, I’m just taking the credits LOL), and we can’t emphasize enough how we want this to be personal. We want people who come to our wedding are the people closest to us, as we want to chat with them–not just greet them, shake their hands and then maybe if we still have enough time, take a photograph, and then all the guests would eat and go home. NO. we don’t want that.

So here’s the story.

The venue was in our Campus Chapel and Hall. We wanted to have it in our lovely Campus because that’s where we met, grew together entering adulthood, and to make it even more personal, the priest who married us was our former lecturer.  And I have to tell you, the Chapel and the Hall was very ordinary. They’ve been there for like 50 years, so it’s not a fancy building because we don’t want fancy, we want warmth and togetherness.

We made the invitation ourselves. I asked my friend to design it for me. I gave her the idea and she did the work. Since the guests are very limited, I only printed about a hundred. And I am blessed because my friend, who designed it, decided to make it as a gift for me so she had them printed at her own cost. Then with embroided papers and vintage lace we wrap them nicely. Done.

We created songs and compile them into a CD as our souvenirs. It was Continue reading “My DIY Wedding”