Recovering from Over-thinking

what does it feel like when you’ve always been telling your friends, “hey, stop overthinking or you’ll stressed out,” and it turns out that you are an overthinker?

i was shocked.

seven months ago, my world almost collapsed from its center and I don’t know what to do. first, denial. then, slowly I get to accept the bitter truth.

So, I’m an overthinker. now what?

I was fortunate enough my psychologist, though hundreds miles away from me, she’s been supportive and sent me links and suggestions how to manage my thoughts.

The yoga sessions I have had contributed a lot to help me minimise the crazy thoughts. I somehow gain the availability to be a spectator of my own mind swirling in chaos. I don’t usually able to stay in this state for a long time, but enough to see what it’s like. And it’s… dark. so dark, I can’t even begin to imagine how I’ve lived until now with such darkness inside of me.

During the first weeks, I was busy figuring out how to stop. But then I figured, it’s almost impossible to stop completely, as my brain is wired that way. But I don’t want to give in and justify this negative thoughts controlling my life.

So this is what I learned. Surrender.

I know. it may sound like I’m giving in, right? But actually, surrender in this context is first and foremost, accept that I have an issue. I have a problem, I have this huge flaw I have never known in my life before. And then, as I said earlier, it’s so hard to completely stop, so I identify what mood, what events, what situations that may trigger my overthinking. Once I managed that, I know how to handle and react or even prevent that from happening. One of the causes is uncomfortable feeling especially when things don’t go as planned. I usually, almost instantly, fall into the trap of thinking, “why fate does not favor me? why am I the one to sacrifice things? why should I be feeling disappointed all the time?” and the thoughts go on and on and on… endless, harmful. So when that situation occur, I try to surrender. not to the negative thoughts, but to the flow and the following chain of events. I’m letting the universe work, rather than controlling the universe. What will be, will be. And I keep telling myself, it’s not my fault, it’s not because I was unfortunate, it’s not the determination that I won’t be able to get the opportunities, it doesn’t mean I’m a loser. It’s just not meant to be at that time, for that occasion.

Once I cut the chain of reactions of the negative thoughts, and this is also combined by awareness breathing, I start to feel okay. Everything’s fine, it’s not the end of the world. And then I start to smile. Smile is good. Smile is healthy. Happy thoughts slowly pops in my head. and then I laugh and just like that, I don’t overthink.

I still need a lot of practise, but this proves that it’s possible. I can control this.

After a while I realise that the complexity of how my mind works can be beneficial as well. I like plans, this helps me to organize all my ideas and thoughts and I am able to have a bit of control over the consequences. And this mind of mine works amazingly when it comes to detail. So this is another homework for me: channeling thoughts into positive ideas, positive work, and creating creative ideas from this complex web.

Be happy.

always.

 

 

Advertisements

Overthinking

Apa sih overthinking itu?

Pernah mengalami situasi di mana ada suatu kejadian kecil, lalu itu membuatmu pikiranmu jadi ruwet ke mana-mana, hingga pada akhirnya kamu merasa sangat capek, sedih, bahkan berujung stres?

Ya, kurang lebih itulah overthinking. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa berkunjung ke Depression, Anxiety and Overthinking atau bertanya ke ahlinya seperti psikolog atau psikiater.

Overthinking masih sering disepelekan oleh kebanyakan penderitanya. Padahal, yang satu itu, kalau tidak dikendalikan, bisa mengarah pada depresi sampai keinginan untuk bunuh diri, lho.

Saya adalah seorang “overthinker”.

Saya baru mengetahuinya sekitar tujuh bulan yang lalu.

Awalnya tentu saya tidak menyadarinya. Tahun silih berganti, dan saya semakin sering stress akan beberapa hal tertentu, yang cenderung berawal dari satu hal sepele sekali. Bersyukur karena saya orang yang cukup reflektif, kemudian saya bertanya dalam diri saya sendiri, “kenapa harusnya segitunya, sih? Apa iya itu normal?”

Karena saya tidak bisa menjawab sendiri, saya lalu curhat sekaligus konsul ke psikolog saya. Diawali dengan menceritakan kejadian paling pertama, apa yang saya pikirkan, sampai hingga akhirnya apa yang saya rasakan dan dampaknya kepada diri saya dan orang terdekat.

Dari situ saya jadi tahu. Oh, gue overthinking ternyata.

Kenyataan yang pahit, karena saya hampir selalu bilang ke teman-teman saya, “nggak usah overthinking lah,” eh, ternyata, saya sendiri yang overthinking.

Psikolog saya memberi beberapa alternatif cara untuh mencegah kondisi ini semakin buruk. Dia mengirimkan saya tautan ini nih, How to stop overthinking dan memberi beberapa saran, salah satunya untuk menciptakan ‘mantra’ supaya berhenti berpikir terlalu jauh dan melakukan sesuatu dengan tangan saya.

Ternyata sulit banget ya. Tapi perubahan memang memerlukan waktu, jadi sabarrrr…. tarik napas… coba lagi.

Nah, masalahnya, bagaimana saya tahu bahwa saya tidak sedang overthinking, melainkan memang memikirkan suatu perkara tertentu? Overthinking itu, dari pengalaman saya ya, tidak selalu ada hubungan langsung dengan perkara sebenarnya. Kebetulan, saya punya banyak pengalaman buruk di masa lalu yang membuat saya paling enggak suka kalau diabaikan, karena sepanjang masa kecil saya banyak mengalami pengabaian. Dan situasi yang bikin saya bad mood, merasa dicuekin, kayak gitu jadi memicu serangkaian pikiran negatif terkait masa lalu yang nggak nyaman itu. Dan pada akhirnya, bukan tidak mungkin itu malah akan menciptakan masalah baru yang tadinya enggak ada, jadi ada deh.. bagaikan sulap. haha. Jadi, biasanya saya tahu ya dari gimana masalah itu cepet mencapai solusi atau enggak. s

Suami saya bilang ke saya, “sejak kamu dikasih tau kalau kamu overthinking, kok kayaknya kamu malah makin ga jelas sih?”

Dia berkata seperti itu karena dia tidak sepenuhnya paham kayak apa sebenernya kerja otak saya. Jadi saya maklumi saja. Yang penting, nggak boleh nyerah sama keadaan. Yes, I am wired this way, I cannot control or plan how my mind create its own web of thoughts. But, I can always control what to think and decide to be positive.

Orang berubah tidak semudah membalikkan telapak tangan, kok

Jadi, kalau kamu memang ternyata overthinker, jangan malu untuk mengakuinya. At least, ke diri kamu sendiri. Dan, jangan takut bahwa kamu itu tidak normal. Tenang aja, punya sesuatu yang lebih bukan berarti tidak normal. Kita cuma punya tantangan unik dibandingkan orang lain aja.

Overthinking ada sisi positifnya kok. Saya ini kalau ada di dekat orang-orang positif, diajak kerja dengan cara positif, banyak ide kreatif bermunculan. dan, sangking kompleksnya pemikiran saya ini, ide-ide yang saya munculkan itu kerap cukup detail dan luas. Saya cocok banget buat handle project-project yang perlu memerhatikan detail dan multi-tasking.

So, surround yourself with positive people, even create such positive vibes for you. Ubah yang “buruk” jadi baik dengan mengubah sudut pandang.

Merasa ada banyak kemiripan? Jangan ragu untuk konsultasi dengan ahlinya ya. Tulisan saya ini semata sharing dari pengalaman saya pribadi. But I really encourage all of you to have healthy mind and happy life. 🙂