Hipokondria

Pagi itu adalah hari yang normal bagi kaum ngelaju yang akan berangkat menuju tempat kerja masing-masing. Matahari masih malu untuk keluar, tapi deru kendaraan bermotor sudah meraung gahar. Selusin orang berjejer di pinggir jalan menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka ke kubikel mereka masing-masing.

Seorang pria muda nampak berada di antara selusin orang itu yang mayoritas adalah perempuan. Canggung, ia berusaha maju lebih ke depan, supaya bisa menyetop busnya yang akan segera datang. Berulang kali ia mengucapkan kata permisi, tapi seperti kebanyakan komuter lainnya, kuping para pekerja itu sudah disumpal dengan musik pop elektronik. Ia pun menggunakan badannya untuk menyadarkan orang-orang itu akan kehadirannya. Persis sebelum busnya melewati kerumunan itu, ia sampai di depan dan melambaikan tangan. Sopir langsung menginjak rem, para pengendara motor menarik gas kencang-kencang tanda protes pada si sopir. Buru-buru si pria berkacamata itu naik, tangannya segera menggapai besi pembatas penumpang paling depan dengan posisi kondektur. Segera setelah duduk ia mengamati tangannya yang memegang besi tersebut lalu degan tangan satunya ia merogoh kantung depan tas selempangnya, mengambil sebuah botol kecil berisi cairan seperti gel bening. Crot crot crot. Dituangkannya cairan itu ke atas tangan yang memegang besi tadi. Tidak lupa ia bersihkan kembali dengan tisu basahnya. Hanya selang beberapa detik, bus berhenti untuk mengambil penumpang lagi. Jo baru saja memasukkan kembali botol kecil itu ke kantong tasnya dan membetulkan posisi duduknya, ketika sopir bus kembali rem mendadak hingga penumpang yang baru naik itu terjungkal. Refleks, penumpang itu mencari pegangan dan tumpuan terdekatnya adalah lengan Jo. Orang itu segera minta maaf, namun Jo hanya tersenyum singkat. Kemudian penumpang tadi duduk di kursi sebelah Jo dan mulai terbatuk-batuk. Mata Jo mengerling ke arah orang itu. jari-jari dari tangan yang sama yang telah bertumpu padanya menutup mulut orang itu rapat saat ia terbatuk. Kuku jarinya panjang dan agak hitam. Jo memalingkan wajahnya dan memandang lengannya dengan jijik. Suara crot crot crot dan harum tisu basah kembali mewarnai suasana pengap bus itu.

Bus biru antar kota itu melaju, meninggalkan kepulan asap hitam. Jo berdiri di trotoar pinggir jalan yang ramai dengan suara knalpot yang bising. Ia masih geli membayangkan kejadian di bus tadi. Mulai terasa olehnya kepala cenat-cenut dan tenggorokan kering. Gontai, ia berjalan ke arah gedung kantornya.

Sepuluh menit berlalu sejak ia duduk di kursinya. Ia mendengar ada langkah orang memasuki ruangan. Suara rekan kerjanya, Indah. Seakan mau mati, ia hanya menatap Indah dengan sayu. Terbiasa oleh mood rekannya yang tidak jelas, Indah mengabaikannya lalu meletakkan tas, menyalakan komputer, dan menyiapkan gelas untuk membuat secangkir kopi hitam.

Jo tiba-tiba berdiri di sampingnya. Badannya bungkuk, matanya seakan sayu, dan telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya yang setengah terbuka.

“Ewww…kamu menjijikkan, Jo!” kata Indah.

“Aku sakit,” keluh Jo, mengabaikan kekesalan temannya itu.

“Apalagi kali ini?”

“Ada…eheeem hem heeemm heeeeeeeeemmmm hem…” Indah mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya hampir saling bertemu.

“Ada pria di bus yang menyebarkan virus pagi ini. Aku tidak enak badan”, lanjut Jo.

“Oh, kali ini dengan apa dia sebarkan virusnya hah?” balas Indah dengan nada sarkas.

“Ya, menurutmu? Kurang ajar sekali ‘kan pria itu tidak tahu diri, habis bersin-bersin, buang ingus dan batuk-batuk, tangannya langsung megang tanganku, ya jelas saja aku langsung ketularan. Iya,kan?! Ehem…hem heeeemmmmmm…”

Indah melongo beberapa detik. Lalu agak meringis menahan tawa.

“Oke, jadi dalam waktu 1,5 jam dan hanya karena pria itu menyentuh tangan kamu, kamu langsung sakit?”

Jo mengangguk cepat sambil menunjuk-nunjuk tenggorokannya.

“Mungkin seharusnya kamu langsung pulang dan mandi dengan tujuh kembang. Sepertinya itu bisa menangkal kutukan khayalanmu.” Hardik Indah.

“Itu ‘kan hanya mitos bu-“

“tepat sekali, Jo. MI-TOS! Seperti semua penyakitmu.” potong Indah sambil mengangkat gelas kopinya.

“Memangnya menurutmu tidak parah ya, kalau seseorang menyebarkan virus dengan kurang ajar seperti itu?”

“Lebih kurang ajar orang yang sudah tau flashdisknya bervirus tetap main colok ke komputer orang lain, jadi semua data temannya di komputer itu hilang semua,” telunjuk Indah mengarah tepat pada batang hidung Johanes.

“Aku kan cuma minta pendapat, Ndah,” tetap abai terhadap apa yang temannya sampaikan.

“Nah, ya itu tadi pendapatku,”sahut Indah tegas.

Tiba-tiba suara seorang wanita mengalihkan keributan dua orang itu. “Good Morning! How are we doing today?” sapa Marie, wanita berkebangsaan Inggris yang mengepalai kedua pria dan wanita itu.

Okay, thanks. You?” jawab Indah

Great. And you, Johanes?” Jo tidak langsung menjawab, ia hanya melihat ke arah bosnya yang sudah paruh baya namun selalu enerjik dan sehat itu dengan mata sayu. Marie menengadah dari mejanya untuk melihat pada orang yang ditanya tadi. “Oh, you don’t look too good.” Kata Marie sambil melirik cepat ke Indah yang hanya geleng-geleng di balik komputernya. Antara meja Indah dan Johanes ada sekat kubikel mereka, namun posisi mereka terlihat jelas dari ruang kerja Marie.

Yeah, I don’t feel good,” jawabnya lirih. Ia meringkuk di kursinya, menyedot ingus, lalu batuk-batuk kecil.

Oh, you poor thing. Ada apa?”

“Pagi ini ada seorang pria yang kurang ajar sekali, Ibu Marie,” lanjutnya.

Indah menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, “Here we go again.”

Ibu Marie yang membaca gerak bibir Indah tersenyum sekilas, lalu bertanya pada Joe, “Ayo cerita, ada kisah menarik apa lagi?”

Jo bercerita dengan penuh dramatisasi tentang pria Pembawa Virus di busnya tadi. Meskipun ini sudah kesekian kalinya Jo bercerita penuh drama seperti ini, Marie tetap mendengarkan dengan sabar.

“Jadi kamu pikir pria itu membawa virus?” tanyanya.

“Ohh… I know. Pria itu pakai masker, batuk-batuk dan bersin terus. Sudah pasti dia membawa virus.”

“Tapi kamu juga tahu ‘kan, virus itu memerlukan masa inkubasi 2 hari dalam tubuh sampai benar-benar bisa memunculkan reaksi?”

“I-yaaa…” Jo agak terbata membalasnya, lalu mendeham lagi. Marie mengangkat kedua alisnya. Lalu Jo buru-buru menambah, “Oh ya, tentu aku tahu. Aku tidak bodoh. Tapi kamu tahu juga kan, bagaimana virus itu semakin canggih? Dan aku terpapar langsung lho, dia memegang tanganku.”

“Yang mana semakin tidak mungkin itu langsung berakibat pada tubuhmu, karena flu tidak menyebar lewat sentuhan,” sergah Indah.

“Ya, tapi, lalu aku ini kenapa dong, kalau bukan karena virusnya itu?”

Well, kalau kamu tahu virus perlu masa inkubasi dan sebagainya tapi kamu yakin kamu sudah tertular, menurutmu apa lagi penyebabnya?” jawab Ibu Marie.

Terdengar dengusan keras dari meja rekan kerjanya. Jo hanya melirik ke arah datangnya suara itu. Lalu ia melanjutkan, “Tidak. Ini badanku, aku yang tahu apa yang sedang terjadi padaku,” katanya bersikukuh.

“Atau, kamu ke dokter saja. Di gedung ini ada klinik dan dokter yang praktik setiap hari. Coba saja ke sana, Jo.” Saran Marie.

“Oke.”

Tidak sampai 10 menit menunggu, nama Jo dipanggil. Dokter mendengarkan keluhan dan kronologis ceritanya dengan seksama. Kemudian Dokter memeriksa paru-parunya, tenggorokannya, tekanan darahnya, dan mengukur suhu tubuhnya. Hasilnya: normal. Jo berdebat dengan dokter itu, yang sudah puluhan tahun menjalani praktik sebagai dokter umum, dan akhirnya dokter berkata akan memberikan diagnosa dan resep untuk Jo. Tersenyum dengan penuh kepuasan, Jo menunggu sang dokter dengan sabar.

Dokter lalu memberi sebuah amplop putih kecil. Sebelum keluar dari ruang periksa, Jo diberi pesan untuk meminta bantuan dari kerabat dan keluarga. Begitu keluar ruangan, Jo membaca tulisan si dokter:

 

Diagnosis: Hipokondria

Keadaan dimana seseorang sakit atau akan sakit, seringkali disertai gejala meskipun tidak ada penyakit yang dideritanya atau tidak ada tanda-tanda penyakit apapun, dan tetap yakin sakit meskipun bukti medis membuktikan hal sebaliknya.

Rujukan: ke psikiater, minimal psikolog untuk mengatasi penyakit ini.

Jo mencermati tulisan si dokter. Jantungnya berdegup kencang. Ke Psikiater minimal psikolog? Memangnya aku gila? Awalnya ia merasa kecewa, karena sepertinya tidak ada yang memercayainya. Tetapi ini dokter betulan yang mengatakan bahwa dia sehat. Tidak mungkin seorang dokter berbohong. Dia lihat sendiri bagaimana dokter tadi memeriksanya dengan seksama. Hasilnya normal. Lalu ia teringat bagaimana ibunya pun tidak memercayainya begitu saja kalau dia bilang merasa sakit. Dan sebetulnya ia juga paham akan masa inkubasi virus dan virus tidak menyebar lewat sentuhan. Jadi sebetulnya sampai detik ini dia aman. Dia juga menyadari bahwa sedari tadi pagi semuanya hanya terjadi di dalam pikirannya saja. Tentang virus-virus bermutasi dan bisa masuk dalam tubuhnya melalui kulitnya. Ia mulai berpikir, jangan-jangan diagnosa ini betulan? Jo mulai merasa ragu. Jangan-jangan hanya pikirannya yang mengatakan dia sakit, padahal tidak? Pikirannya telah meracuninya. Jo geleng-geleng kepala. ‘Tidak, tidak, aku sehat. AKU SEHAT!” katanya dalam hati dengan tegas. Jo bergegas naik kembali ke ruangannya.

“Apa kata dokter, Jo?” tanya Indah.

“Tidak ada apa-apa, aku merasa sudah baikan.” Sahut Jo buru-buru sambil membuang kertas diagnosa dokternya tadi.

Marie dan Indah saling bertukar pandang. Mereka bingung apa yang dapat mengubah Jo begitu cepat.

“Aku tidak ingin menjadi orang gila. Aku sepertinya sehat-sehat saja,” tegas Jo.

Marie berjalan ke arah Jo, ingin memastikan anak buahnya sungguh sudah lebih baik. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat tulisan di kertas di dalam tempat sampah: Hipokondria. Ia langsung tahu apa yang membuat Jo berubah drastis.

“Kamu sudah membuat keputusan yang tepat,” ujarnya sambil tersenyum lembut.

Advertisements

Enam

Oktober. Musim hujan. Musim durian. Semua kesukaannya. Tapi ada yang lebih disukainya pada bulan ini, yaitu hari jadi ia dan pacarnya. Tanggal 20 ini memasuki usia pacaran yang keenam. Dia dan pacarnya tidak pernah merayakan secara khusus, pun tahun ini.

Satu tahun belakangan ini mereka tidak begitu bahagia. Ada perselingkuhan. Ada jarak. Ia telah memutuskan untuk memaafkan dan mencoba untuk bersama-sama memperbaiki hubungan mereka. Alasannya sederhana, ia masih merindukan sosok kekasihnya. Ia tidak memungkiri pedih yang dirasakan, tapi ia juga tidak bisa bohong pada dirinya sendiri bahwa dalam hati kecilnya ia masih sayang. Lantas, perempuan yang baru empat tahun memasuki usia kepala dua itu ingin merefleksikan kembali proses hubungan mereka.

Enam tahun. Ia penasaran apa itu artinya angka enam. Sebagai seorang Arian, ia selalu ingin menjadi yang terdepan. Ia tidak ingin hubungan ini hanya akan jadi sia-sia. Ia harus tahu. Ia harus pelajari segalanya. Kopi hitam pekat itu diseruputnya sambil ia membetulkan posisi duduknya, dan lalu jemarinya yang mungil mulai bermain testikus. Ia mengarahkan anak panah ke salah satu browser: Mozilla. Ia memasukkan kata kunci di mesin pencari: arti angka enam. Mesin pencari langsung memunculkan beragam hasil penemuannya:

“Angka enam merupakan angka favorit praktisi feng shui. Julukan angka enam adalah ‘6 keberuntungan dari surga’. Enam merupakan simbol kesuksesan. Simbol angka enam adalah legenda dengan planet Venus sebagai penggeraknya. dari situlah angka enam mewakilkan harmoni, keseimbangan, ketulusan, cinta, keberuntungan, dan kekayaan.”

Semua hasilnya menunjukkan hal-hal yang positif. Jadi ia mulai berpikir, “mungkin tepatlah keputusanku ini untuk memperbaiki hubungan karena sepertinya ini akan mengarah kepada sesuatu yang baik.”

 

Ia tutup mesin pencari itu dan menatap ke luar jendela. Pandangannya jauh ke depan. Lantunan lagu band Dream Theatre berjudul Beneath The Surface sayup terdengar. Sesungguhnya ia tidak pernah percaya shio, ramalan, atau apapun yang sifatnya nujum. Namun jarak yang tidak nyaman ini membuatnya jadi melakukan banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Atau mungkin lebih tepatnya hal-hal menuju keputus-asaan. Contohnya saja sewaktu ia bekerja di tambang, para pria pekerja tambang banyak sekali yang merayunya. Mulai dari stok lokal hingga internasional. Dari yang luar biasa tampan hingga yang jauh dari tampan. Ia tahu pria-pria itu hanyalah manusia dengan tungkai dijepit dua bola di antara kedua pahanya yang menganggap perempuan sebagai objek. Kedua bola yang menjepit itu lalu akan mengalirkan darah sehingga tungkai menjadi tegak setiap kali melihat perempuan cantik lewat. Mereka tak ada yang istimewa baginya. Sesekali terbersit di kepalanya untuk selingkuh. Sesekali ia membalas rayuan mereka. Seringkali ia ingat perjalanan Jogja-Bali dengan mengendarai vespa bersama pacarnya. Namun lebih sering ia merasa kosong. Hingga kini, beberapa dari predator perempuan itu masih suka menghubunginya. Sesekali ia tanggapi, seringkali ia abaikan. Keputus-asaan membuatnya kehilangan stabilitas.

Tapi lalu ia ingat, enam tahun juga rentang usianya dengan pacarnya. Ah, lagi-lagi angka itu muncul. Ia kembali merenungkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi selama enam tahun belakangan. Ia senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepala dan memangku dahi pada kedua telapak tangannya. Tidak ada hal yang bisa ditebak dalam hidup. Semua serba tidak pasti. Kalau ia runut lagi ke belakang, ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan selingkuh. Ia pria yang sopan, pintar, tahu menghargai perempuan, dan tidak pernah menuntut untuk diladeni. Dari sekian banyak pria yang pernah dikencaninya, si pria inilah yang bisa menerima dia apa adanya dan mendukung segala mimpinya tanpa syarat. Tsk, orang pintar sekalipun terselip. Pria sesopan apapun hanya manusia dan bisa terbawa napsu. Tapi lalu apa yang sebetulnya memicu pria itu selingkuh? Seseorang yang berpendidikan tinggi dan emosi stabil tidak akan main mengambil keputusan yang sembrono. Pasti ada sesuatu. Ia menyentakkan kepalanya. Lalu tersadar, pria itu sudah cukup lama menjaga jarak sebelum selingkuh. Ya, sejak pria itu ke negeri kangguru. Hampir dua tahun sebelum perselingkuhan itu.

Domba, lambang kaum Arian, adalah makhluk yang berhati baik tapi keras kepala. Ia juga polos dan tidak mudah melupakan. Gadis berambut ikal itu ingat betul bagaimana si Aquarian mengejar dirinya dulu. Menginginkannya sepenuh hati. Tidak pernah jaga imej, selalu jujur dan apa adanya. Ahh… betapa ia terlena pada nilai kejujuran itu. Ia menjadi buta akan fakta bahwa hidup selalu penuh kejutan. Meskipun pria itu tidak mau menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, ia tau. Laki-laki itu mungkin pernah kehilangan daya tarik pada dirinya. Laki-laki itu tak lagi mengingininya seperti dulu. Bahkan cumbuannya berbeda. Ia sebetulnya sudah tahu ada yang berbeda, hanya masih menyangkal bahwa itu tidak benar. Lalu ia mendapati dirinya tersungkur, menangis pilu seiring senja datang. Pria itu telah membawa tawa dan tangis dalam hidupnya. Kali ini, tangis itu merupakan sayatan terdalam yang pernah ia alami.

Pengaruh planet Mars begitu besar terhadap perempuan kelahiran bulan April itu. Energi planet merah kembali membangkitkan semangat juangnya dan ia mulai berpikir apa yang harus ia lakukan. Ia tidak mungkin sendu melulu. Tidak mungkin patah arang sekalipun pilu. Ia sudah telanjur menerima sosok itu kembali dalam hidupnya. Arian tak pernah melanggar komitmen. Ia harus melanjutkan hubungan ini meski meninggalkan ruang hampa teramat dingin. Langkah terberat adalah bersikap sama. Pria itu bisa tahu kalau ia sedang mengalami gangguan pikiran. Ia harus berbohong beberapa kali saat mengucapkan kata sayang, karena dalam hatinya ia marah dan dendam. Untungnya ia telah kembali ke ibukota untuk bekerja sedangkan si pria tetap di Jogjakarta untuk meneruskan usahanya, sehingga perempuan itu memiliki banyak kesempatan untuk menghindar tanpa harus kontak fisik. Oh, keparat dengan ramalan dan feng shui. Enam itu bukan lambang harmoni, cinta, atau kesuksesan. Itu hanyalah angka tak bermakna. Ia pun marah pada dirinya sendiri telah sempat berharap bahwa hubungan ini akan membawa kepada sesuatu yang lebih baik.

Berminggu-minggu berlalu dan hatinya juga tak kunjung damai. Ia tahu, merongrong laki-laki itu untuk menceritakan semua hanya akan berakhir sia-sia. Ia tidak akan mendapat apa-apa. Jarak antara mereka memberinya keleluasaan waktu dan ruang untuk berpikir hingga akhirnya ia menemukan satu kunci penting dalam hidupnya.

Proyek kerjasama yang saat ini ia jalankan mengurus berbagai hal berkenaan dengan sosial-psikologi, terutama kasus-kasus pada pelanggar hukum. Banyak orang, yang merasa dirinya lebih baik, akan mencoba ‘mengubah’ pelanggar hukum supaya bertobat. Memang tujuan dari Lembaga Pemasyarakatan untuk mencapai itu, tetapi yang perlu orang sadari adalah pertobatan itu harus datang dari kemauan si pelanggar hukum itu sendiri. Di sinilah peran proyek itu. Para petugas lapas dilatih sedemikian rupa untuk tidak menggurui si pelanggar hukum, melainkan mendampingi mereka untuk menyadari letak kesalahan sehingga muncul kemauan dari dalam diri sendiri untuk bertobat.

Sebetulnya itu teori yang sudah lama ia ketahui. Ia lupa akan teori itu karena terbawa emosi. Dan kali ini ia betul-betul sadar akan pentingnya hal tersebut. Ia tidak bermaksud menyamakan pacarnya dengan pelanggar hukum, karena pacarnya tidak melanggar hukum apapun. Pacarnya ‘hanya‘ melanggar komitmen dan sebetulnya ada kebebasan padanya untuk memilih.

Manusia selalu diberikan pilihan dan oleh karena itu berhak menentukan pilihannya. Situasi dan kondisi sesaat sebelum pacarnya itu mengambil keputusan menjadi pengaruh yang cukup besar. Sehingga menjadi kurang tepat baginya jika ia benci pacarnya. Keputusan dan tindakan pacarnyalah yang harus dibenci. Faktor-faktor yang berkontribusi pada keputusannya itulah yang harus dipahami dan diatasi supaya tidak muncul lagi. Manusia masih akan terus membuat pilihan dan di situ ia berharap kelak pacarnya dapat mengambil pilihan yang berbeda. Kekasih hatinya sudah membuat pengakuan dan berjanji akan memperbaiki hubungan mereka yang retak. Memang sulit untuk memercayai kata-kata seseorang yang telah berbohong padamu, tapi di situ ada harapan. Di situ si perempuan juga diuji bagaimana menyikapi awal pertobatan si pria.

Si perempuan mulai berpikir ulang. Jika ia memutuskan untuk meninggalkan hubungan, berarti ia tidak mau berharap. Sedangkan selama ini perempuan idealis itu selalu menekankan bahwa dalam hidup tak boleh hilang harapan. Keputusan seperti itu juga akan menjadikan ia hakim atas hidup kekasihnya. Berarti ia menilai pria tersebut telah melakukan kejahatan, dan memutuskan bahwa pria yang sudah mengaku bersalah itu tak layak lagi dalam hidupnya. Padahal bagi pelanggar hukum yang mengaku bersalah sekalipun akan diberi keringanan hukuman oleh hakim. Sejak kecil ia belajar bahwa manusia pasti pernah salah, tetapi kita harus memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali tujuh kali. Ia teringat kisah Santa Maria Magdalena, orang kudus yang dipilih orangtuanya menjadi pelindung hidupnya. Ketika semua orang hendak merajam Maria Magdalena yang kala itu adalah seorang pelacur, Yesus datang dan berkata “Barangsiapa merasa dirinya tidak pernah berbuat dosa, baiklah ia melempar batu pertama kali kepada wanita ini“. Kemudian Yesus berpesan pada wanita itu, “Pergilah dan bertobatlah.“ Sejak itu Maria Magdalena menjadi salah satu pengikut Yesus yang setia, bahkan yang pertama kali mengetahui Yesus bangkit.

Si perempuan sadar, ia pun pernah berdosa. Dan ia pernah diampuni. Banyak harapan pada dirinya dan itu juga salah satu yang membantunya bangkit. Kembali pada kasusnya dan kekasihnya. Sesungguhnya hatinya terluka dan ia mencari pelampiasan atas perih itu. Memang lebih mudah untuk menutup buku dan membuangnya. Namun itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Ia bukan Yesus, tapi ia tahu manusia harus berusaha memilih yang terbaik. Ia putuskan bahwa ia tidak akan melempar batu pada pria itu. Ia melepaskan gengsi dan egonya. Ia akan mendampingi pria itu dan ingin terus berharap. Ternyata, sebagai gantinya, ia mendapat kasih dan damai. Ia tidak akan menjadi orang kudus, namun ia merasa jauh lebih baik.

Selama proses pemikirannya itu, ia telah beberapa kali merongrong laki-laki itu untuk bercerita mengapa pria itu tega melakukan hal jahat pada perempuan yang katanya ia sayangi. Ia telah memaksa kekasihnya mengorek koreng yang juga sedang dalam tahap penyembuhan. Dan setiap kali si perempuan bertanya tentang hal itu, korengnya tergesek sedikit. Secara tidak langsung si perempuan menyakiti pria itu.

Tapi perempuan itu tidak lagi ingin mengorek masa lalu. Kini ia tahu bahwa ia seharusnya fokus pada apa yang mereka jalani sekarang ini. Sebagaimana si pria juga hanya ingin fokus pada si perempuan. Ingin kembali membuat gadisnya bahagia. Pria jangkung itu berusaha menepati janji dan ia telah berubah.

Hubungan yang mereka rajut selama enam tahun terus berlanjut hingga tahun berikutnya. Selama setahun mereka berusaha kembali intim, kembali pada cinta yang dulu mereka rasakan. Ketika akhirnya hubungan itu menginjak usia ke-tujuh, si perempuan membuka buku jurnalnya. Secangkir kopi hitam dari Turki yang merupakan oleh-oleh dari sang kekasih menemaninya ke alam kenangan. Ia tergelak ketika halaman yang dibacanya sampai pada bagian kumpulan arti angka enam. Lalu ia terhenyak dan kembali merenung.

Aha! Dia menemukan arti angka enam itu ada benarnya. Enam yang dikendalikan oleh Venus memang merupakan lambang keharmonisan, keseimbangan, dan cinta. Tentu semuanya tidak serta merta datang begitu saja ketika mereka merayakan hari jadi keenam, melainkan mereka harus mendapatkannya. Kembali lagi ke soal pilihan. Apakah mereka mau sama-sama memperbaiki diri atau tidak. Mereka harus berjuang untuk menemukan kembali irama dan gairah yang hilang. Penerimaan bahwa tidak ada yang sempurna, dan akan selalu ada ruang pertobatan dan harapan; itulah yang membuatnya tersadar bahwa ia telah menemukan harmoni, keseimbangan, dan cinta. Baginya itulah hubungan yang memanusiakan. Karena sesungguhnya tak ada gading yang tak retak.

Arian dan Aquarian adalah pasangan yang tidak akan menemukan kebosanan. Mereka bukan pasangan konvensional. Pertengkaran yang tidak perlu kerap terjadi. Itulah risikonya kalau pacaran dengan Arian. Kau harus siap dengan perdebatan. Tapi perdebatan itu akan selalu diakhiri dengan romansa yang menggairahkan dan penuh kejutan. Sedangkan si Aquarian yang jenaka akan selalu menceriakan hari dengan lelucon yang segar dan kebodohan yang menggemaskan. Semangat positif pria kelahiran bulan Januari itu juga turut membakar cinta mereka. Dua kutub yang berbeda kini bersatu seperti magnet yang melekat ketika sudah dihubungkan.

Sepasang itu lalu memutuskan untuk menikah. Dan mereka sudah membawa bekal yang cukup untuk naik level dalam permainan cinta. Si perempuan tersenyum sambil menutup buku jurnalnya. Ia tahu, petualangan yang lebih dahsyat sedang menantinya.

 

 

 

Religiositas dan Kejiwaan

Tahun 2012 saya mendapat kesempatan bekerja di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Pemerintah kita memiliki kerjasama dengan Pemerintah Australia untuk sebuah pelatihan. Salah satu program itu adalah melatih petugas lapas Indonesia. Memaski dunia ini ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui, termasuk tentang sistem “pemasyarakatan” kita. Konon, mereka yang terpidana oleh hukum dan harus dipenjara adalah orang-orang yang bertentangan dengan hukum dan menggangu masyarkat, sehingga mereka perlu “dimasyarakatkan” kembali. Begitulah, hingga yang dulu sebutannya narapidana (orang yang melakukan tindak pidana) sekarang ganti nama jadi warga binaan pemasyarakatan atau disingkat WBP (orang yang meresahkan masyarakat sehingga perlu dibina lagi). Seperti apakah binaan itu? Ada program Agama, Olahraga, Menjahit, beberapa LP memiliki program membuat roti/kue, sepatu, laundry, dan untuk LP khusus narkotika ada yang menjalankan program Methadone (tapi tidak semua). Nah, yang menarik yang ingin saya ceritakan adalah bagaimana para petugas masih kabur antara keagamaan dan kejiwaan. Jadi begini, di sebuah pelatihan di mana saya adalah interpreternya, seorang petugas Bapas (Balai Pemasyarakatan-tempat WBP bebas bersyarat harus melapor) sedang bertemu klien (WBP tersebut berubah nama jadi “klien”) terpidana kasus pelecehan seksual. Di saat petugas Bapas bertanya latar belakang si klien termasuk kisah terjadinya tindak pidana itu, si klien bercerita begini:

Bahwa dia bekerja di sebuah koperasi kantor. Ia adalah pria paruh baya asli Lombok yang merantau ke Jakarta tanpa memboyong keluarganya. Menurut pengakuannya, ia sudah lama bekerja di Jakarta, sekitar 20 tahun. Di tempat kerjanya tersebut seorang teman sering datang ke sana dengan anak perempuannya. Anak perempuan itu katanya masih berusia sekitar 10-11 tahun. Suatu ketika, anak perempuan ini sedang dititipi oleh temannya itu dan datang pada si klien ini merengek minta diberikan handphone. Si klien tidak tega menolak, jadi dibawalah anak itu ke Pasar Senen. Ia lalu menyewa kamar hotel murahan, dengan alasan selagi ia mencarikan hape untuk bocah itu, ia menyuruh si bocah menunggu di sana. Katanya, bocah itu yang mulai duluan dengan duduk pekangkangan (ngangkang) dan dia bilang cuma megang sedikit. Singkatnya, bocah itu mengadu pada orangtua hingga menjadi kasus.

Ya ya, saya tahu apa yang ada di pikiran kalian semua. Saya juga gemas mendengar pernyataan orang itu. TAPI, yang lebih anehnya adalah bagaimana petugas Bapas membawa arah wawancara itu. Alih-alih menggali lebih dalam motivasi sebenarnya sampai sewa kamar hotel murahan, ia justru bertanya: “sudah lama tidak bertemu istri?” “Apakah sudah lama tidak berhubungan intim?”

Sambil terus menerjemahkan, batin saya berkata, “loh, loh, ini kok jadi begini arahnya?” Si klien jelas mengambil kesempatan itu dan berkata bahwa ia sudah kangen istri karena istri jauh sekali. Dia juga sempat mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya, ia berhenti megang-megang bocah itu karena teringat anaknya sendiri. Dan, bukannya si petugas kembali bertanya tentang perbuatannya itu, dia malah berkata lagi, “jadi sudah menyesal, ya, dan sebetulnya itu hanya hasrat yang tidak tersalurkan.” Saya mau mati rasanya ketika menerjemahkan! astaga, kenapa jadi dibenarkan sih tindakan jahatnya itu?

Dan itu masih belum seberapa ketika si petugas menyimpulkan bahwa karena klien ini berada jauh dari keluarga dan jarang beribadah, maka program yang bisa mengatasi napsu-napsu yang tidak terkontrol itu adalah dengan program Agama dengan menyuruhnya rajin bertemu dengan Ustad dan sholat serta membaca Al-Quran. Pernyataan itu seakan menampar muka saya. APA? KENAPA?

Seseorang boleh mengaku beriman dan beragama, taat beribadah dan sebagainya, tetapi ketika itu menyangkut perilaku atau sikap, itu sudah tidak ada kaitannya lagi dengan agama. Ketika disanggah oleh bos saya waktu itu, si petugas pun masih tetap ngotot program terbaik adalah agama. Agama boleh menjadi pegangan hidup seseorang, tetapi otak kitalah yang tetap mengendalikan tubuh kita.

Pulang dari sana hatiku risau. Dan selama ini kita bertanya-tanya kenapa kriminal itu berkeliaran di sekitar kita…