The Perks of Being A Wife To A Rockstar

The perks of being a wife to a rockstar is that I get to make other girls envy me because most of the girls worship boys who can play music instrument and are in a band. These girls tend to think those boys are cool as they’re the centre of the public’s attention and popular, etc. I don’t marry my husband because he’s in a band or to get famous. I marry him for all of the classic reasons in liking a person–he’s kind, comfortable in being himself and eventually makes me feel comfortable being myself around him–and most importantly because he has passion and determined. We dated for eight years before we finally got married and in those years I was blessed and able to achieve even greater things than I am alone. So that’s WHY I marry him.

The perks of being a wife to a rockstar is that I’m also his assistant. In my case, because he’s often forgetful this role is extremely important… for the sake of our relationship. Part of this job is to help him decide what to wear, what not wear, and recently I even helped him decide which guitar he should take on stage. The latter don’t usually happen, because that’s his area of specialty. He is the guitarist, not me. But yeah, tonight before the show I asked, Why not use the explorer? He replied that this is just a small gig. But just before he left the house he carried his explorer. HAHAHA! I also get to arrange his schedule, sometimes, and when I have a Continue reading “The Perks of Being A Wife To A Rockstar”

Advertisements

What I do when I’m not writing or reading

I do exercise. For me, nothing beats a good run and weight lifting or Yoga class to blow off steam. I exercise as regularly as I write and read. Sometimes even more often. 

I go have some quality time with my husband. Being married to a sound engineer/guitarist/producer means less time to actually talk with each other. His work can take a full whole month (sometimes even months!) of overtime recording/mixing/mastering and whatnot. Being able to get away from all that and be there just the two of us is always a thing I look forward to. 

Reading Keri Smith’s books. Most of her book is instructing the readers to do stuff. So it’s not actually reading a book like we read novels, but it’s more like doing research, explore new ideas, train the creativity muscle and always think outside the box. I like it a lot, because I find it refreshing and inspiring. 

Do nothing. This is also one of my favorite thing. The key to be able to move on with the hectic daily life is to go back to oneself. I’m using this time to re-trace everything; if I’m on the right track or not, should I be doing more community work, etc. But most importantly, I just enjoy the serenity of it. Giving my body a chance to fully pause all kinds of activity and surrender to nature and time. 

Reality Check

I’m finally able to find some time alone in front of the computer to write something. This time I will dedicate this post and write it in my native language, Indonesian.

Setiap abis liburan atau akhir pekan, banyak yang suka bilang, “Saatnya kembali ke kenyataan.” Memangnya pada saat liburan itu bukan kenyataan, ya? Itu juga kenyataan lho. Mungkin saking seringnya kita berkutat pada rutinitas yang membosankan, membuat sehari-dua hari leyeh-leyeh itu seperti mimpi; dan ketika harus kembali kepada rutinitas seakan kita terbangun dari alam mimpi. Iya, nggak?

Kenyataan seringkali membuat kita merasa terpenjara. Padahal kita sendiri yang membuat diri kita berada dalam posisi itu. Aku pengen sedikit berbagi kenyataan hidupku. Buat kalian yang sudah lama mengenal aku, mungkin sudah banyak tahu; tapi kalian yang sekadar tahu aku mungkin perlu tahu sedikit lebih banyak.

Keluargaku miskin. Bapak di-phk waktu tahun 1998 dan sejak itu Ibu seorang yang bekerja untuk mendapat pemasukan rutin. Hidup kami sangat sederhana, tinggal di rumah kecil yang sudah tidak ada langit-langitnya sejak entah sudah berapa tahun karena termakan rayap, makan dan minum seadanya, dan seterusnya. Karena situasi yang sangat sulit ekonomi seperti itu, uang menjadi sesuatu hal yang sangat berarti bagi orangtua saya. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya lebih sukses–lulus kuliah, dapat kerjaan bagus,dst. Dan mereka membanting tulang (dengan cara mereka sendiri) supaya anak-anaknya bisa mendapat hidup yang lebih baik. Mereka pikir dengan bekerja dari pagi sampai malam, berkelahi karena uang mau habis dan tagihan masih menunggak, memarahi anak kalau tidak juara kelas adalah cara-cara supaya anak bisa mendapat peluang kebahagiaan yang lebih besar. Uang seringkali menjadi sumber masalah. Orangtua saya sering tarik urat gara-gara uang. Kakak saya sering musuhin saya kalo saya ngga mau pinjamin tabungan saya ke dia supaya dia bisa memuaskan dirinya sendiri. Uang menjadi pengendali dan penentu kebahagiaan kami. Lantas, bekerja demi mendapatkan uang banyak adalah realita yang tak dapat dielakkan.

Sejak kecil saya gemar menabung dan kebiasaan itu berhasil membuat saya, yang cuma anak biasa di sekolahan bisa beli sepatu Reebok classic yang lumayan harganya. Karena saya nggak mau hidup susah seperti orangtua saya, maka saya giat bekerja. Usia 22 tahun saya sudah tidak pernah minta uang sama ortu lagi. Iya, bahkan jatah saya untuk mengongkosi biaya pernikahan saya itu berasal dari kocek saya sendiri. Usia 24 tahun gaji per bulan yang saya terima mencapai lebih dari 10 juta. Sejak usia 22-27 tahun sekarang ini, lima tahun lamanya, gaji saya pernah 200 ribu per bulan, di atas 10 juta per bulan, sampai bahkan 0 rupiah per bulan. Waktu awal saya bekerja, saya tidak terlalu peduli berapa gaji yang saya terima, selama saya bisa berkembang. Idealisme saya tinggi sekali sampai-sampai saya tidak pusing-pusing amat berapa gaji yang akan saya terima. Tapi, dapat gaji di atas 10 juta per bulan juga membuat saya berada di atas langit-seakan bisa melakukan apa saja. Bisa memanjakan orangtua, bahkan bisa membiayai akomodasi dan transport keluarga untuk datang ke pernikahan saya, dan bahkan seringkali langsung dianggap sebagai orang yang harus menafkahi orang lain. Memangnya saya ini nggak punya rencana hidup jangka panjang? Namun ketika saya tidak mendapat gaji sepeser pun, itu tidak mengecilkan hati saya dan membuat saya minder. Kenapa? Karena kenyataan yang saya buat berbeda dengan kenyataan yang saya terima-tanpa ada pilihan apapun-sewaktu saya kecil dan bertumbuh dewasa.

Kenyataan yang saya buat adalah sesuatu untuk memutus mata rantai yang sudah karatan. Saya selalu berpikir, apa yang saya inginkan dalam hidup? Banyak. Tapi uang seringkali berada di urutan agak bawah. Saya sadar betul, tanpa uang segala kebutuhan primer saya juga nggak akan bisa tercukupi dengan sendirinya. Tapi yang saya tekankan dalam diri adalah jangan sampai jadi budak uang. Kenyataan yang ingin saya ciptakan pada diri saya sendiri adalah sebuah dunia di mana saya bisa hidup seimbang dan bahagia-tanpa kekangan untuk terus menerus menjalani rutinitas demi uang.

Saya yakin kita punya piihan. Saya juga yakin kita bisa menciptakan peluang dan kenyataan sendiri yang pas buat kita. Saya tidak mengatakan bahwa kalian lalu harus ikuti jejak saya atau bahwa ini adalah pola hidup yang paling benar. Intinya hanyalah bahwa hidup itu singkat. Jangan sampai justru ketika kita menikmati jerih payah kita, secara nyata, itu malah kita anggap mimpi, seperti ungkapan yang saya sampaikan di awal tadi. Karena kalau sampai begitu, berarti mungkin saja kita sudah kelewat batas menjalani rutinitas hidup sampai tidak ada maknanya lagi.

Adalah suatu kenyataan bahwa miskin itu nggak enak. Saya pernah mengalaminya. Tapi kaya juga nggak selamanya enak. Saya dapat uang banyak, tapi waktu saya untuk berkreasi dan beristirahat amat sangat terbatas kalau tidak ingin dikatakan hampir tidak ada. Jadi semua yang di dunia ini hanya sementara. Semua hanya di dalam pikiran.

Saya juga masih belajar. Seringkali saya menemukan diri saya mojok sendirian di rumah membayangkan saat ini saya mendapat gaji di atas 10 juta per bulan, kerja di Jogja (yang notabene UMR-nya terendah se-Indonesia), dan masih punya waktu untuk berkreasi memuaskan passion saya. Yah, namanya juga manusia-banyak maunya, termasuk saya. Menyadari bahwa itu adalah hal yang hampir tidak mungkin, saya ganti fokus ke sesuatu yang bisa saya lakukan sekarang ini juga. Mojok kelamaan dan bermimpi itu tidak akan mengirim hujan uang ke atas atap rumah kontrakan saya.

Selama proses saya belajar, saya masih belum membuktikan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan. Pengalaman saya selama hampir kepala 3 ini, hati yang damai dan pikiran yang positif itu yang lebih diutamakan untuk mencapaikan kebahagiaan. Dan itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Jadi setiap kali saya mengecek keberadaan saya di dunia ini, saya berusaha: menerima hal yang tidak dapat saya ubah, memiliki keberanian untuk mengubah hal yang bisa saya ubah, dan cukup bijak untuk mengetahui perbedaannya*. Ini supaya kenyataan yang saya jalani setiap harinya adalah kenyataan yang sungguh saya buat sendiri secara sadar, dan selalu bahagia karenanya.

Selamat mengecek kenyataan kalian. I wish you all nothing but the happiest life. 

*Serenity Prayer: Lord, grant me the strength to accept the things I cannot change, courage to change things I can, and wisdom to know the difference.

Home is where your heart is

I never knew what it was like to be happy. To have a happy family who care and love each other. I grew up with anger, sadness, hatred, revenge, and neglect surrounding the whole atmosphere. Everytime I got back from school my heart swirls. What’s gonna happen this time, I thought to myself. 

With dark-unhappy childhood, I grew up believing that there is no happiness. It’s only for those who live a better life than my family. Better economy. Better choices. 

Things started to change when I went to college- I moved to a different city. Smaller than my hometown. There, my fellow college students thought I’m this rich girl from the Capital and have lots of other privileges than them. I found it hard at first, but then it changed me. 

That city and its nuances, college life and my new bestfriends-everything helped me to see the world from a different perspective. Being alone from family is hard for some, but for me then it was okay. I was doing extremely well and okay. 

No need to worry everytime I got back from school, no need to listen to hard rock music to silence the noise outside my room, and most importantly, no need to worry if I made even the smallest mistake. Everything was fine. I was happy though I wasn’t ‘home’.

After I graduated, I moved back to my hometown. Gosh, it was worse than before I left four years before. Then I became like common urban people. Living a life like clockwork. Routine. The happiness I built in the college town is slowly and surely tumbling down. I lost myself. I began making the damn same knot like my family. 

I realized that everytime I got back from work I feel unsafe, uncomfortable…still worrying things. 

One day I decided to resign from my job. A fabulous career, they say. Too bad, they say. 

But ere I am now, back to college town. Building a family of my own with my husband. Hopefully a better and loving one. 

So I guess it’s true; home is where your heart is.  

Day 2: My List

Things I like:

  1. Elephants
  2. Dogs
  3. Kindness
  4. Peace
  5. Noodles
  6. Comedy
  7. Family
  8. Long-lasting relationship
  9. Chocolate
  10. Durian
  11. French toast
  12. Beer
  13. Paintings
  14. Van Gogh
  15. Music
  16. Motivational Books
  17. Writing
  18. Working out
  19. Vinyasa Yoga
  20. Good conversation
  21. Going home from work early
  22. Sneakers
  23. Hand-made crafts
  24. Movies
  25. Hiking
  26. Backpacking
  27. Road-tripping

That’s the list of what I like–at least what I could think of so far. What’s yours?

Day 1: Sugeng Ndalu

Halo! Sugeng Ndalu means good evening in Javanese. My name is Maria Magdalena Rahayu Ambarastuti or Ambar for short. I know. I have a name for three people at once. I’m from Indonesia and am Javanese. And as Javanese, my parents believe in the philosophical meaning of a name, that’s why they gave me such a long name. But I am not going to discuss about names and their meaning here. It’s 9.07 p.m in Central Java, Indonesia, so no time to waste on names explanation.

I work as professional English-Indonesian-English translator/interpreter currently at Gameloft Indonesia. At home, I play my role as diligent wife and do my part of the chores. And then I do what I like the most: reading and writing. Most of the times I will watch Orange Is the New Black instead of reading or writing. *big grin*

I like reading because I never get bored imagining things the writer wrote. And I could learn a lot of new things from reading.

I write because when I was a kid I used to imagine myself as a writer. This is because I love reading and eventually I want to become like those authors. I have lots of famous writers who inspire me and whenever I’m daydreaming, I would dream myself producing books that inspire and motivates other people. I write because when my heart is filled with unsettled feelings, I find writing is often the best way of channeling it. And when I was a kid, I found that pen and paper are my most loyal companions when I’m feeling blue. But I had not the confident to write for public.

I began to write for public because I could speak my thoughts and feelings more loud in writing than verbal. I started to write essays about history and politics turmoil in Indonesia. I continue to write even personal things because I found that when I share with people my experiences, they get to learn something. And then they ask me to write about it.

So, I write because I cannot just be a mere spectator of life’s events.

Sharing Is Caring

Lots of people say that sharing is caring. I believe it’s true. There were episodes in my life that I wished people had been more kind and share things I need to know or understand. When most people tend to repeat the circle-they’d do what others or circumstances did to them-I decided to break the chain and hopefully become a better person by doing it. I always try to share everything I have with others. Be it money, food, knowledge, experience, energy, etc. You may think that I’m just trying to look like an angel or to make other people think of me that way. But truth be told, I don’t really care about what people think or say about me (unless it’s defaming me in a very harsh way). And mostly I like to help people to finally able to help themselves. Like giving tips, educating, suggesting stuff, anything that help makes people who come to me and ask for help understand their problem and able to solve it. This is important because we cannot always depend on other people AND what others may think or do when they’re dealing with the same issue, may not be applicable to us. So sharing experience and knowledge is what I do most often.

Today, I had another opportunity to enlighten some students of English Literature at my old campus. The topic was about interpreting. I am so happy and thrilled that my experience in interpreting, both good and bad, can motivate others and they can learn from it. Some of them will take the subject in this semester, and it’s good to see that they’re welcoming this enthusiastically.

The class itself was my biggest crowd yet. I sensed such a great energy and I was extremely excited that I can be a part of that energy. The good thing was that there were lots of good questions, indicating that they are willing to learn. I don’t expect them all to be interpreters, and I encourage them to do this because they like it and willing to commit to the job.  In the end, our passion is what matters the most.

I shared my worst mistake when interpreting and I do hope that with this information they will try to avoid what I did, and pursuit better ways than I did or do. Good luck to all of you!

Religiositas dan Kejiwaan

Tahun 2012 saya mendapat kesempatan bekerja di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Pemerintah kita memiliki kerjasama dengan Pemerintah Australia untuk sebuah pelatihan. Salah satu program itu adalah melatih petugas lapas Indonesia. Memaski dunia ini ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui, termasuk tentang sistem “pemasyarakatan” kita. Konon, mereka yang terpidana oleh hukum dan harus dipenjara adalah orang-orang yang bertentangan dengan hukum dan menggangu masyarkat, sehingga mereka perlu “dimasyarakatkan” kembali. Begitulah, hingga yang dulu sebutannya narapidana (orang yang melakukan tindak pidana) sekarang ganti nama jadi warga binaan pemasyarakatan atau disingkat WBP (orang yang meresahkan masyarakat sehingga perlu dibina lagi). Seperti apakah binaan itu? Ada program Agama, Olahraga, Menjahit, beberapa LP memiliki program membuat roti/kue, sepatu, laundry, dan untuk LP khusus narkotika ada yang menjalankan program Methadone (tapi tidak semua). Nah, yang menarik yang ingin saya ceritakan adalah bagaimana para petugas masih kabur antara keagamaan dan kejiwaan. Jadi begini, di sebuah pelatihan di mana saya adalah interpreternya, seorang petugas Bapas (Balai Pemasyarakatan-tempat WBP bebas bersyarat harus melapor) sedang bertemu klien (WBP tersebut berubah nama jadi “klien”) terpidana kasus pelecehan seksual. Di saat petugas Bapas bertanya latar belakang si klien termasuk kisah terjadinya tindak pidana itu, si klien bercerita begini:

Bahwa dia bekerja di sebuah koperasi kantor. Ia adalah pria paruh baya asli Lombok yang merantau ke Jakarta tanpa memboyong keluarganya. Menurut pengakuannya, ia sudah lama bekerja di Jakarta, sekitar 20 tahun. Di tempat kerjanya tersebut seorang teman sering datang ke sana dengan anak perempuannya. Anak perempuan itu katanya masih berusia sekitar 10-11 tahun. Suatu ketika, anak perempuan ini sedang dititipi oleh temannya itu dan datang pada si klien ini merengek minta diberikan handphone. Si klien tidak tega menolak, jadi dibawalah anak itu ke Pasar Senen. Ia lalu menyewa kamar hotel murahan, dengan alasan selagi ia mencarikan hape untuk bocah itu, ia menyuruh si bocah menunggu di sana. Katanya, bocah itu yang mulai duluan dengan duduk pekangkangan (ngangkang) dan dia bilang cuma megang sedikit. Singkatnya, bocah itu mengadu pada orangtua hingga menjadi kasus.

Ya ya, saya tahu apa yang ada di pikiran kalian semua. Saya juga gemas mendengar pernyataan orang itu. TAPI, yang lebih anehnya adalah bagaimana petugas Bapas membawa arah wawancara itu. Alih-alih menggali lebih dalam motivasi sebenarnya sampai sewa kamar hotel murahan, ia justru bertanya: “sudah lama tidak bertemu istri?” “Apakah sudah lama tidak berhubungan intim?”

Sambil terus menerjemahkan, batin saya berkata, “loh, loh, ini kok jadi begini arahnya?” Si klien jelas mengambil kesempatan itu dan berkata bahwa ia sudah kangen istri karena istri jauh sekali. Dia juga sempat mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya, ia berhenti megang-megang bocah itu karena teringat anaknya sendiri. Dan, bukannya si petugas kembali bertanya tentang perbuatannya itu, dia malah berkata lagi, “jadi sudah menyesal, ya, dan sebetulnya itu hanya hasrat yang tidak tersalurkan.” Saya mau mati rasanya ketika menerjemahkan! astaga, kenapa jadi dibenarkan sih tindakan jahatnya itu?

Dan itu masih belum seberapa ketika si petugas menyimpulkan bahwa karena klien ini berada jauh dari keluarga dan jarang beribadah, maka program yang bisa mengatasi napsu-napsu yang tidak terkontrol itu adalah dengan program Agama dengan menyuruhnya rajin bertemu dengan Ustad dan sholat serta membaca Al-Quran. Pernyataan itu seakan menampar muka saya. APA? KENAPA?

Seseorang boleh mengaku beriman dan beragama, taat beribadah dan sebagainya, tetapi ketika itu menyangkut perilaku atau sikap, itu sudah tidak ada kaitannya lagi dengan agama. Ketika disanggah oleh bos saya waktu itu, si petugas pun masih tetap ngotot program terbaik adalah agama. Agama boleh menjadi pegangan hidup seseorang, tetapi otak kitalah yang tetap mengendalikan tubuh kita.

Pulang dari sana hatiku risau. Dan selama ini kita bertanya-tanya kenapa kriminal itu berkeliaran di sekitar kita…