Reality Check

I’m finally able to find some time alone in front of the computer to write something. This time I will dedicate this post and write it in my native language, Indonesian.

Setiap abis liburan atau akhir pekan, banyak yang suka bilang, “Saatnya kembali ke kenyataan.” Memangnya pada saat liburan itu bukan kenyataan, ya? Itu juga kenyataan lho. Mungkin saking seringnya kita berkutat pada rutinitas yang membosankan, membuat sehari-dua hari leyeh-leyeh itu seperti mimpi; dan ketika harus kembali kepada rutinitas seakan kita terbangun dari alam mimpi. Iya, nggak?

Kenyataan seringkali membuat kita merasa terpenjara. Padahal kita sendiri yang membuat diri kita berada dalam posisi itu. Aku pengen sedikit berbagi kenyataan hidupku. Buat kalian yang sudah lama mengenal aku, mungkin sudah banyak tahu; tapi kalian yang sekadar tahu aku mungkin perlu tahu sedikit lebih banyak.

Keluargaku miskin. Bapak di-phk waktu tahun 1998 dan sejak itu Ibu seorang yang bekerja untuk mendapat pemasukan rutin. Hidup kami sangat sederhana, tinggal di rumah kecil yang sudah tidak ada langit-langitnya sejak entah sudah berapa tahun karena termakan rayap, makan dan minum seadanya, dan seterusnya. Karena situasi yang sangat sulit ekonomi seperti itu, uang menjadi sesuatu hal yang sangat berarti bagi orangtua saya. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya lebih sukses–lulus kuliah, dapat kerjaan bagus,dst. Dan mereka membanting tulang (dengan cara mereka sendiri) supaya anak-anaknya bisa mendapat hidup yang lebih baik. Mereka pikir dengan bekerja dari pagi sampai malam, berkelahi karena uang mau habis dan tagihan masih menunggak, memarahi anak kalau tidak juara kelas adalah cara-cara supaya anak bisa mendapat peluang kebahagiaan yang lebih besar. Uang seringkali menjadi sumber masalah. Orangtua saya sering tarik urat gara-gara uang. Kakak saya sering musuhin saya kalo saya ngga mau pinjamin tabungan saya ke dia supaya dia bisa memuaskan dirinya sendiri. Uang menjadi pengendali dan penentu kebahagiaan kami. Lantas, bekerja demi mendapatkan uang banyak adalah realita yang tak dapat dielakkan.

Sejak kecil saya gemar menabung dan kebiasaan itu berhasil membuat saya, yang cuma anak biasa di sekolahan bisa beli sepatu Reebok classic yang lumayan harganya. Karena saya nggak mau hidup susah seperti orangtua saya, maka saya giat bekerja. Usia 22 tahun saya sudah tidak pernah minta uang sama ortu lagi. Iya, bahkan jatah saya untuk mengongkosi biaya pernikahan saya itu berasal dari kocek saya sendiri. Usia 24 tahun gaji per bulan yang saya terima mencapai lebih dari 10 juta. Sejak usia 22-27 tahun sekarang ini, lima tahun lamanya, gaji saya pernah 200 ribu per bulan, di atas 10 juta per bulan, sampai bahkan 0 rupiah per bulan. Waktu awal saya bekerja, saya tidak terlalu peduli berapa gaji yang saya terima, selama saya bisa berkembang. Idealisme saya tinggi sekali sampai-sampai saya tidak pusing-pusing amat berapa gaji yang akan saya terima. Tapi, dapat gaji di atas 10 juta per bulan juga membuat saya berada di atas langit-seakan bisa melakukan apa saja. Bisa memanjakan orangtua, bahkan bisa membiayai akomodasi dan transport keluarga untuk datang ke pernikahan saya, dan bahkan seringkali langsung dianggap sebagai orang yang harus menafkahi orang lain. Memangnya saya ini nggak punya rencana hidup jangka panjang? Namun ketika saya tidak mendapat gaji sepeser pun, itu tidak mengecilkan hati saya dan membuat saya minder. Kenapa? Karena kenyataan yang saya buat berbeda dengan kenyataan yang saya terima-tanpa ada pilihan apapun-sewaktu saya kecil dan bertumbuh dewasa.

Kenyataan yang saya buat adalah sesuatu untuk memutus mata rantai yang sudah karatan. Saya selalu berpikir, apa yang saya inginkan dalam hidup? Banyak. Tapi uang seringkali berada di urutan agak bawah. Saya sadar betul, tanpa uang segala kebutuhan primer saya juga nggak akan bisa tercukupi dengan sendirinya. Tapi yang saya tekankan dalam diri adalah jangan sampai jadi budak uang. Kenyataan yang ingin saya ciptakan pada diri saya sendiri adalah sebuah dunia di mana saya bisa hidup seimbang dan bahagia-tanpa kekangan untuk terus menerus menjalani rutinitas demi uang.

Saya yakin kita punya piihan. Saya juga yakin kita bisa menciptakan peluang dan kenyataan sendiri yang pas buat kita. Saya tidak mengatakan bahwa kalian lalu harus ikuti jejak saya atau bahwa ini adalah pola hidup yang paling benar. Intinya hanyalah bahwa hidup itu singkat. Jangan sampai justru ketika kita menikmati jerih payah kita, secara nyata, itu malah kita anggap mimpi, seperti ungkapan yang saya sampaikan di awal tadi. Karena kalau sampai begitu, berarti mungkin saja kita sudah kelewat batas menjalani rutinitas hidup sampai tidak ada maknanya lagi.

Adalah suatu kenyataan bahwa miskin itu nggak enak. Saya pernah mengalaminya. Tapi kaya juga nggak selamanya enak. Saya dapat uang banyak, tapi waktu saya untuk berkreasi dan beristirahat amat sangat terbatas kalau tidak ingin dikatakan hampir tidak ada. Jadi semua yang di dunia ini hanya sementara. Semua hanya di dalam pikiran.

Saya juga masih belajar. Seringkali saya menemukan diri saya mojok sendirian di rumah membayangkan saat ini saya mendapat gaji di atas 10 juta per bulan, kerja di Jogja (yang notabene UMR-nya terendah se-Indonesia), dan masih punya waktu untuk berkreasi memuaskan passion saya. Yah, namanya juga manusia-banyak maunya, termasuk saya. Menyadari bahwa itu adalah hal yang hampir tidak mungkin, saya ganti fokus ke sesuatu yang bisa saya lakukan sekarang ini juga. Mojok kelamaan dan bermimpi itu tidak akan mengirim hujan uang ke atas atap rumah kontrakan saya.

Selama proses saya belajar, saya masih belum membuktikan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan. Pengalaman saya selama hampir kepala 3 ini, hati yang damai dan pikiran yang positif itu yang lebih diutamakan untuk mencapaikan kebahagiaan. Dan itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Jadi setiap kali saya mengecek keberadaan saya di dunia ini, saya berusaha: menerima hal yang tidak dapat saya ubah, memiliki keberanian untuk mengubah hal yang bisa saya ubah, dan cukup bijak untuk mengetahui perbedaannya*. Ini supaya kenyataan yang saya jalani setiap harinya adalah kenyataan yang sungguh saya buat sendiri secara sadar, dan selalu bahagia karenanya.

Selamat mengecek kenyataan kalian. I wish you all nothing but the happiest life. 

*Serenity Prayer: Lord, grant me the strength to accept the things I cannot change, courage to change things I can, and wisdom to know the difference.

Advertisements

Author: Maria Ambarastuti

A wife, a worker, a dreamer. trying to live her life to the fullest and continue to search for ways to enrich life. drop me an email for further chats: m.ambarastuti@gmail.com

3 thoughts on “Reality Check”

  1. yea sometime I feel like abandoning my failure, telling myself that was a mistake (even as an architecture student, sometime I throw my drawings and model just because I thought how awful my doing was), but yeah, you explain on your post how to deal with that much pessimism.
    great post!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s