Hipokondria

Pagi itu adalah hari yang normal bagi kaum ngelaju yang akan berangkat menuju tempat kerja masing-masing. Matahari masih malu untuk keluar, tapi deru kendaraan bermotor sudah meraung gahar. Selusin orang berjejer di pinggir jalan menunggu kendaraan yang akan mengantar mereka ke kubikel mereka masing-masing.

Seorang pria muda nampak berada di antara selusin orang itu yang mayoritas adalah perempuan. Canggung, ia berusaha maju lebih ke depan, supaya bisa menyetop busnya yang akan segera datang. Berulang kali ia mengucapkan kata permisi, tapi seperti kebanyakan komuter lainnya, kuping para pekerja itu sudah disumpal dengan musik pop elektronik. Ia pun menggunakan badannya untuk menyadarkan orang-orang itu akan kehadirannya. Persis sebelum busnya melewati kerumunan itu, ia sampai di depan dan melambaikan tangan. Sopir langsung menginjak rem, para pengendara motor menarik gas kencang-kencang tanda protes pada si sopir. Buru-buru si pria berkacamata itu naik, tangannya segera menggapai besi pembatas penumpang paling depan dengan posisi kondektur. Segera setelah duduk ia mengamati tangannya yang memegang besi tersebut lalu degan tangan satunya ia merogoh kantung depan tas selempangnya, mengambil sebuah botol kecil berisi cairan seperti gel bening. Crot crot crot. Dituangkannya cairan itu ke atas tangan yang memegang besi tadi. Tidak lupa ia bersihkan kembali dengan tisu basahnya. Hanya selang beberapa detik, bus berhenti untuk mengambil penumpang lagi. Jo baru saja memasukkan kembali botol kecil itu ke kantong tasnya dan membetulkan posisi duduknya, ketika sopir bus kembali rem mendadak hingga penumpang yang baru naik itu terjungkal. Refleks, penumpang itu mencari pegangan dan tumpuan terdekatnya adalah lengan Jo. Orang itu segera minta maaf, namun Jo hanya tersenyum singkat. Kemudian penumpang tadi duduk di kursi sebelah Jo dan mulai terbatuk-batuk. Mata Jo mengerling ke arah orang itu. jari-jari dari tangan yang sama yang telah bertumpu padanya menutup mulut orang itu rapat saat ia terbatuk. Kuku jarinya panjang dan agak hitam. Jo memalingkan wajahnya dan memandang lengannya dengan jijik. Suara crot crot crot dan harum tisu basah kembali mewarnai suasana pengap bus itu.

Bus biru antar kota itu melaju, meninggalkan kepulan asap hitam. Jo berdiri di trotoar pinggir jalan yang ramai dengan suara knalpot yang bising. Ia masih geli membayangkan kejadian di bus tadi. Mulai terasa olehnya kepala cenat-cenut dan tenggorokan kering. Gontai, ia berjalan ke arah gedung kantornya.

Sepuluh menit berlalu sejak ia duduk di kursinya. Ia mendengar ada langkah orang memasuki ruangan. Suara rekan kerjanya, Indah. Seakan mau mati, ia hanya menatap Indah dengan sayu. Terbiasa oleh mood rekannya yang tidak jelas, Indah mengabaikannya lalu meletakkan tas, menyalakan komputer, dan menyiapkan gelas untuk membuat secangkir kopi hitam.

Jo tiba-tiba berdiri di sampingnya. Badannya bungkuk, matanya seakan sayu, dan telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya yang setengah terbuka.

“Ewww…kamu menjijikkan, Jo!” kata Indah.

“Aku sakit,” keluh Jo, mengabaikan kekesalan temannya itu.

“Apalagi kali ini?”

“Ada…eheeem hem heeemm heeeeeeeeemmmm hem…” Indah mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya hampir saling bertemu.

“Ada pria di bus yang menyebarkan virus pagi ini. Aku tidak enak badan”, lanjut Jo.

“Oh, kali ini dengan apa dia sebarkan virusnya hah?” balas Indah dengan nada sarkas.

“Ya, menurutmu? Kurang ajar sekali ‘kan pria itu tidak tahu diri, habis bersin-bersin, buang ingus dan batuk-batuk, tangannya langsung megang tanganku, ya jelas saja aku langsung ketularan. Iya,kan?! Ehem…hem heeeemmmmmm…”

Indah melongo beberapa detik. Lalu agak meringis menahan tawa.

“Oke, jadi dalam waktu 1,5 jam dan hanya karena pria itu menyentuh tangan kamu, kamu langsung sakit?”

Jo mengangguk cepat sambil menunjuk-nunjuk tenggorokannya.

“Mungkin seharusnya kamu langsung pulang dan mandi dengan tujuh kembang. Sepertinya itu bisa menangkal kutukan khayalanmu.” Hardik Indah.

“Itu ‘kan hanya mitos bu-“

“tepat sekali, Jo. MI-TOS! Seperti semua penyakitmu.” potong Indah sambil mengangkat gelas kopinya.

“Memangnya menurutmu tidak parah ya, kalau seseorang menyebarkan virus dengan kurang ajar seperti itu?”

“Lebih kurang ajar orang yang sudah tau flashdisknya bervirus tetap main colok ke komputer orang lain, jadi semua data temannya di komputer itu hilang semua,” telunjuk Indah mengarah tepat pada batang hidung Johanes.

“Aku kan cuma minta pendapat, Ndah,” tetap abai terhadap apa yang temannya sampaikan.

“Nah, ya itu tadi pendapatku,”sahut Indah tegas.

Tiba-tiba suara seorang wanita mengalihkan keributan dua orang itu. “Good Morning! How are we doing today?” sapa Marie, wanita berkebangsaan Inggris yang mengepalai kedua pria dan wanita itu.

Okay, thanks. You?” jawab Indah

Great. And you, Johanes?” Jo tidak langsung menjawab, ia hanya melihat ke arah bosnya yang sudah paruh baya namun selalu enerjik dan sehat itu dengan mata sayu. Marie menengadah dari mejanya untuk melihat pada orang yang ditanya tadi. “Oh, you don’t look too good.” Kata Marie sambil melirik cepat ke Indah yang hanya geleng-geleng di balik komputernya. Antara meja Indah dan Johanes ada sekat kubikel mereka, namun posisi mereka terlihat jelas dari ruang kerja Marie.

Yeah, I don’t feel good,” jawabnya lirih. Ia meringkuk di kursinya, menyedot ingus, lalu batuk-batuk kecil.

Oh, you poor thing. Ada apa?”

“Pagi ini ada seorang pria yang kurang ajar sekali, Ibu Marie,” lanjutnya.

Indah menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, “Here we go again.”

Ibu Marie yang membaca gerak bibir Indah tersenyum sekilas, lalu bertanya pada Joe, “Ayo cerita, ada kisah menarik apa lagi?”

Jo bercerita dengan penuh dramatisasi tentang pria Pembawa Virus di busnya tadi. Meskipun ini sudah kesekian kalinya Jo bercerita penuh drama seperti ini, Marie tetap mendengarkan dengan sabar.

“Jadi kamu pikir pria itu membawa virus?” tanyanya.

“Ohh… I know. Pria itu pakai masker, batuk-batuk dan bersin terus. Sudah pasti dia membawa virus.”

“Tapi kamu juga tahu ‘kan, virus itu memerlukan masa inkubasi 2 hari dalam tubuh sampai benar-benar bisa memunculkan reaksi?”

“I-yaaa…” Jo agak terbata membalasnya, lalu mendeham lagi. Marie mengangkat kedua alisnya. Lalu Jo buru-buru menambah, “Oh ya, tentu aku tahu. Aku tidak bodoh. Tapi kamu tahu juga kan, bagaimana virus itu semakin canggih? Dan aku terpapar langsung lho, dia memegang tanganku.”

“Yang mana semakin tidak mungkin itu langsung berakibat pada tubuhmu, karena flu tidak menyebar lewat sentuhan,” sergah Indah.

“Ya, tapi, lalu aku ini kenapa dong, kalau bukan karena virusnya itu?”

Well, kalau kamu tahu virus perlu masa inkubasi dan sebagainya tapi kamu yakin kamu sudah tertular, menurutmu apa lagi penyebabnya?” jawab Ibu Marie.

Terdengar dengusan keras dari meja rekan kerjanya. Jo hanya melirik ke arah datangnya suara itu. Lalu ia melanjutkan, “Tidak. Ini badanku, aku yang tahu apa yang sedang terjadi padaku,” katanya bersikukuh.

“Atau, kamu ke dokter saja. Di gedung ini ada klinik dan dokter yang praktik setiap hari. Coba saja ke sana, Jo.” Saran Marie.

“Oke.”

Tidak sampai 10 menit menunggu, nama Jo dipanggil. Dokter mendengarkan keluhan dan kronologis ceritanya dengan seksama. Kemudian Dokter memeriksa paru-parunya, tenggorokannya, tekanan darahnya, dan mengukur suhu tubuhnya. Hasilnya: normal. Jo berdebat dengan dokter itu, yang sudah puluhan tahun menjalani praktik sebagai dokter umum, dan akhirnya dokter berkata akan memberikan diagnosa dan resep untuk Jo. Tersenyum dengan penuh kepuasan, Jo menunggu sang dokter dengan sabar.

Dokter lalu memberi sebuah amplop putih kecil. Sebelum keluar dari ruang periksa, Jo diberi pesan untuk meminta bantuan dari kerabat dan keluarga. Begitu keluar ruangan, Jo membaca tulisan si dokter:

 

Diagnosis: Hipokondria

Keadaan dimana seseorang sakit atau akan sakit, seringkali disertai gejala meskipun tidak ada penyakit yang dideritanya atau tidak ada tanda-tanda penyakit apapun, dan tetap yakin sakit meskipun bukti medis membuktikan hal sebaliknya.

Rujukan: ke psikiater, minimal psikolog untuk mengatasi penyakit ini.

Jo mencermati tulisan si dokter. Jantungnya berdegup kencang. Ke Psikiater minimal psikolog? Memangnya aku gila? Awalnya ia merasa kecewa, karena sepertinya tidak ada yang memercayainya. Tetapi ini dokter betulan yang mengatakan bahwa dia sehat. Tidak mungkin seorang dokter berbohong. Dia lihat sendiri bagaimana dokter tadi memeriksanya dengan seksama. Hasilnya normal. Lalu ia teringat bagaimana ibunya pun tidak memercayainya begitu saja kalau dia bilang merasa sakit. Dan sebetulnya ia juga paham akan masa inkubasi virus dan virus tidak menyebar lewat sentuhan. Jadi sebetulnya sampai detik ini dia aman. Dia juga menyadari bahwa sedari tadi pagi semuanya hanya terjadi di dalam pikirannya saja. Tentang virus-virus bermutasi dan bisa masuk dalam tubuhnya melalui kulitnya. Ia mulai berpikir, jangan-jangan diagnosa ini betulan? Jo mulai merasa ragu. Jangan-jangan hanya pikirannya yang mengatakan dia sakit, padahal tidak? Pikirannya telah meracuninya. Jo geleng-geleng kepala. ‘Tidak, tidak, aku sehat. AKU SEHAT!” katanya dalam hati dengan tegas. Jo bergegas naik kembali ke ruangannya.

“Apa kata dokter, Jo?” tanya Indah.

“Tidak ada apa-apa, aku merasa sudah baikan.” Sahut Jo buru-buru sambil membuang kertas diagnosa dokternya tadi.

Marie dan Indah saling bertukar pandang. Mereka bingung apa yang dapat mengubah Jo begitu cepat.

“Aku tidak ingin menjadi orang gila. Aku sepertinya sehat-sehat saja,” tegas Jo.

Marie berjalan ke arah Jo, ingin memastikan anak buahnya sungguh sudah lebih baik. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat tulisan di kertas di dalam tempat sampah: Hipokondria. Ia langsung tahu apa yang membuat Jo berubah drastis.

“Kamu sudah membuat keputusan yang tepat,” ujarnya sambil tersenyum lembut.

Advertisements

Author: Maria Ambarastuti

A wife, a worker, a dreamer. trying to live her life to the fullest and continue to search for ways to enrich life. drop me an email for further chats: m.ambarastuti@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s