Religiositas dan Kejiwaan

Tahun 2012 saya mendapat kesempatan bekerja di Kedutaan Besar Australia, Jakarta. Pemerintah kita memiliki kerjasama dengan Pemerintah Australia untuk sebuah pelatihan. Salah satu program itu adalah melatih petugas lapas Indonesia. Memaski dunia ini ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui, termasuk tentang sistem “pemasyarakatan” kita. Konon, mereka yang terpidana oleh hukum dan harus dipenjara adalah orang-orang yang bertentangan dengan hukum dan menggangu masyarkat, sehingga mereka perlu “dimasyarakatkan” kembali. Begitulah, hingga yang dulu sebutannya narapidana (orang yang melakukan tindak pidana) sekarang ganti nama jadi warga binaan pemasyarakatan atau disingkat WBP (orang yang meresahkan masyarakat sehingga perlu dibina lagi). Seperti apakah binaan itu? Ada program Agama, Olahraga, Menjahit, beberapa LP memiliki program membuat roti/kue, sepatu, laundry, dan untuk LP khusus narkotika ada yang menjalankan program Methadone (tapi tidak semua). Nah, yang menarik yang ingin saya ceritakan adalah bagaimana para petugas masih kabur antara keagamaan dan kejiwaan. Jadi begini, di sebuah pelatihan di mana saya adalah interpreternya, seorang petugas Bapas (Balai Pemasyarakatan-tempat WBP bebas bersyarat harus melapor) sedang bertemu klien (WBP tersebut berubah nama jadi “klien”) terpidana kasus pelecehan seksual. Di saat petugas Bapas bertanya latar belakang si klien termasuk kisah terjadinya tindak pidana itu, si klien bercerita begini:

Bahwa dia bekerja di sebuah koperasi kantor. Ia adalah pria paruh baya asli Lombok yang merantau ke Jakarta tanpa memboyong keluarganya. Menurut pengakuannya, ia sudah lama bekerja di Jakarta, sekitar 20 tahun. Di tempat kerjanya tersebut seorang teman sering datang ke sana dengan anak perempuannya. Anak perempuan itu katanya masih berusia sekitar 10-11 tahun. Suatu ketika, anak perempuan ini sedang dititipi oleh temannya itu dan datang pada si klien ini merengek minta diberikan handphone. Si klien tidak tega menolak, jadi dibawalah anak itu ke Pasar Senen. Ia lalu menyewa kamar hotel murahan, dengan alasan selagi ia mencarikan hape untuk bocah itu, ia menyuruh si bocah menunggu di sana. Katanya, bocah itu yang mulai duluan dengan duduk pekangkangan (ngangkang) dan dia bilang cuma megang sedikit. Singkatnya, bocah itu mengadu pada orangtua hingga menjadi kasus.

Ya ya, saya tahu apa yang ada di pikiran kalian semua. Saya juga gemas mendengar pernyataan orang itu. TAPI, yang lebih anehnya adalah bagaimana petugas Bapas membawa arah wawancara itu. Alih-alih menggali lebih dalam motivasi sebenarnya sampai sewa kamar hotel murahan, ia justru bertanya: “sudah lama tidak bertemu istri?” “Apakah sudah lama tidak berhubungan intim?”

Sambil terus menerjemahkan, batin saya berkata, “loh, loh, ini kok jadi begini arahnya?” Si klien jelas mengambil kesempatan itu dan berkata bahwa ia sudah kangen istri karena istri jauh sekali. Dia juga sempat mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya, ia berhenti megang-megang bocah itu karena teringat anaknya sendiri. Dan, bukannya si petugas kembali bertanya tentang perbuatannya itu, dia malah berkata lagi, “jadi sudah menyesal, ya, dan sebetulnya itu hanya hasrat yang tidak tersalurkan.” Saya mau mati rasanya ketika menerjemahkan! astaga, kenapa jadi dibenarkan sih tindakan jahatnya itu?

Dan itu masih belum seberapa ketika si petugas menyimpulkan bahwa karena klien ini berada jauh dari keluarga dan jarang beribadah, maka program yang bisa mengatasi napsu-napsu yang tidak terkontrol itu adalah dengan program Agama dengan menyuruhnya rajin bertemu dengan Ustad dan sholat serta membaca Al-Quran. Pernyataan itu seakan menampar muka saya. APA? KENAPA?

Seseorang boleh mengaku beriman dan beragama, taat beribadah dan sebagainya, tetapi ketika itu menyangkut perilaku atau sikap, itu sudah tidak ada kaitannya lagi dengan agama. Ketika disanggah oleh bos saya waktu itu, si petugas pun masih tetap ngotot program terbaik adalah agama. Agama boleh menjadi pegangan hidup seseorang, tetapi otak kitalah yang tetap mengendalikan tubuh kita.

Pulang dari sana hatiku risau. Dan selama ini kita bertanya-tanya kenapa kriminal itu berkeliaran di sekitar kita…

Advertisements

Author: Maria Ambarastuti

A wife, a worker, a dreamer. trying to live her life to the fullest and continue to search for ways to enrich life. drop me an email for further chats: m.ambarastuti@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s